Mengapa Uang di Kabupaten Jayawijaya “Tenggelam”? Analisis Krisis Keuangan dan Dampaknya pada Masyarakat

Oleh: Arinus W
Tanggal: 22 Mei 2025


Pengantar: Dari Abang Ojek Keluhan yang Mulai Merata

Sebagai seorang abang ojek di Wamena, Anda mungkin merasakan betul bahwa penghasilan hari ini jauh lebih sulit didapat dibanding tahun lalu. Jika dulu bisa membawa pulang Rp 250.000–300.000 per hari, kini angka itu sulit tercapai. Anda tidak sendirian—banyak warga Jayawijaya mengeluhkan hal serupa: uang seakan “tenggelam”, sulit beredar, dan daya beli masyarakat melemah.

Lantas, kenapa hal ini terjadi? Apakah benar APBD Jayawijaya turun, atau ada faktor lain seperti inflasi tinggi, kebijakan pusat, atau masalah struktural ekonomi Papua Pegunungan? Mari kita telusuri bersama.


1. APBD Jayawijaya 2025 Turun, Dana Pusat Dikurangi

Salah satu penyebab utama kelangkaan uang di Jayawijaya adalah penurunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2025.

  • APBD Jayawijaya 2025 hanya Rp1,4 triliun, turun dari Rp1,7 triliun di tahun sebelumnya .
  • Penyebab penurunan:
  • Pengurangan dana transfer dari pusat akibat penyerapan anggaran 2024 yang kurang optimal.
  • Hilangnya pendapatan dari PT Freeport Indonesia dan deposito daerah yang tidak dilanjutkan .
  • Dampaknya:
  • Program pembangunan & bantuan sosial berkurang, sehingga aliran uang ke masyarakat melambat.
  • Gaji pegawai dan proyek infrastruktur tertunda, mengurangi daya beli warga.

“Kalau APBD turun, uang yang beredar di masyarakat juga ikut menyusut.”


2. Inflasi Tertinggi di Indonesia: Harga Naik, Uang Cepat Habis

Selain APBD yang mengecil, tingginya inflasi di Papua Pegunungan memperparah kesulitan ekonomi warga.

  • Inflasi Jayawijaya sempat mencapai 8,05% (Maret 2025), tertinggi se-Indonesia .
  • Penyumbang inflasi terbesar:
  • Makanan, minuman, & tembakau (+14,65%)
  • Transportasi (+3,10%)
  • Kesehatan & rekreasi (masing-masing +2,63% & +7,95%) .
  • Dampak pada abang ojek & UMKM:
  • Biaya hidup naik, tetapi pendapatan tidak bertambah.
  • Harga BBM & sparepart motor meningkat, mengurangi keuntungan ojek.

“Ketika harga naik, tapi penghasilan tetap, uang terasa lebih cepat habis.”


3. Transportasi Mahal & Pasokan Terhambat

Jayawijaya sangat bergantung pada pasokan barang dari luar, terutama via udara. Setiap kenaikan harga tiket pesawat langsung memengaruhi harga sembako.

  • April 2025: Harga tiket pesawat turun, inflasi sempat terkendali di 5,96% .
  • Namun, fluktuasi transportasi udara tetap tidak stabil, membuat harga barang di Wamena lebih mahal dibanding daerah lain.
  • Jika jalur darat Jayapura-Wamena lebih lancar, harga barang bisa lebih terjangkau .

“Mahalnya ongkos kirim membuat harga sembako di Wamena lebih tinggi daripada di Jawa.”


4. Pinjaman Negara Membesar, Alokasi Dana Daerah Dipangkas

Anda menyebutkan bahwa Bank Indonesia menyatakan dana kas negara menipis. Ini benar—utang Indonesia membesar, sehingga pemerintah pusat memangkas alokasi dana ke daerah.

  • Setiap provinsi dipotong sekitar 1,4%, termasuk Papua Pegunungan .
  • Dampaknya:
  • Dana desa & bantuan sosial berkurang, uang tunai ke masyarakat menyusut.
  • Proyek padat karya tertunda, lapangan kerja semakin sulit.

“Ketika pusat kesulitan, daerah ikut merasakan imbasnya.”


5. Solusi: Apa yang Bisa Dilakukan Warga Jayawijaya?

Meski situasi ekonomi sulit, masih ada harapan untuk bertahan dan bangkit.

✔️ Bagi Pemerintah:

  • Percepat penyerapan APBD agar dana cepat sampai ke masyarakat .
  • Stabilkan harga pangan dengan operasi pasar & bantuan logistik .
  • Perbaiki akses transportasi Jayapura-Wamena untuk tekan harga barang .

✔️ Bagi Warga Biasa (Seperti Abang Ojek & UMKM):

  • Manfaatkan pelatihan keuangan dari OJK untuk mengelola penghasilan .
  • Cari penghasilan tambahan, seperti jualan online atau kerja sampingan.
  • Bergabung dengan koperasi/kegiatan ekonomi produktif untuk saling dukung.

Kesimpulan: Krisis Sementara, Tapi Perlu Aksi Nyata

Uang di Jayawijaya seolah “tenggelam” karena APBD turun, inflasi tinggi, transportasi mahal, dan kebijakan pusat yang ketat. Namun, ini bukan akhir dari segalanya.

Kuncinya:

  • Pemerintah harus transparan & cepat menyalurkan dana.
  • Masyarakat perlu lebih kreatif mencari peluang.
  • Kolaborasi semua pihak penting untuk pulihkan ekonomi.

“Masalah keuangan hari ini bukan akhir cerita. Dengan kerja sama, Jayawijaya bisa bangkit lagi.”


#JayawijayaBangkit #EkonomiPapua #APBDUntukRakyat

Sumber:


🔔 Bagaimana pendapat Anda? Apa solusi lain yang bisa dilakukan?
Silakan bagikan pengalaman atau usulan di kolom komentar!


Eksplorasi konten lain dari Artikel kita

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar