“Tahukah Kamu bahwa Kawanan Serigala Punya Cara Berjalan yang Tak Biasa… Tapi Justru Penuh Makna.”
Dalam kawanan serigala, yang berada paling depan bukanlah pemimpinnya, melainkan serigala yang paling tua atau paling lemah. Mereka ditempatkan di barisan depan untuk menentukan kecepatan, agar tidak tertinggal. Di tengah, ada betina dan anak-anak yang dilindungi oleh serigala yang lebih kuat. Sementara itu, serigala paling gesit berada di belakang tengah. Lalu, di manakah sang alpha? Ia justru berjalan paling belakang.
Bukan karena ia lambat atau tidak mampu memimpin dari depan, melainkan karena ia ingin memastikan seluruh anggota kawanannya tetap utuh, aman, dan tidak ada yang terlewat. Formasi ini bukan tentang siapa yang tercepat atau terkuat, melainkan tentang perlindungan, kebijaksanaan, dan kepemimpinan yang penuh empati.
Kepemimpinan ala Serigala di Tanah Papua
Di Papua, terutama di wilayah pegunungan yang terjal dan penuh tantangan, filosofi kepemimpinan serigala ini sangat relevan. Masyarakat adat Papua hidup dalam kebersamaan, di mana seorang pemimpin sejati bukanlah yang paling berkuasa, melainkan yang paling bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan kelompoknya.
Seperti alpha yang berjalan di belakang, pemimpin di Papua pegunungan harus:
- Menjadi Pelindung – Seorang Ondoafi (pemimpin adat) tidak hanya memberi perintah, tetapi memastikan tidak ada anak-anak, perempuan, atau orang tua yang tertinggal dalam pembangunan.
- Menentukan Langkah Bersama – Seperti serigala tua di depan, pemimpin harus menyesuaikan kecepatan dengan kemampuan warganya, bukan memaksakan kehendak.
- Berjalan di Belakang untuk Memastikan Keutuhan – Pemimpin sejati tidak selalu terlihat di garis depan upacara, tetapi ia ada di belakang, memastikan tak ada yang kelaparan, tak ada yang terlupakan.
Tantangan Kepemimpinan di Papua Pegunungan
Wilayah pegunungan Papua memiliki medan yang berat, akses terbatas, dan keragaman budaya yang kompleks. Seorang pemimpin di sini menghadapi ujian nyata:
- Harus bijak menyatukan tradisi dan modernitas tanpa merusak kearifan lokal.
- Harus adil dalam menyelesaikan konflik, karena perbedaan suku dan kepentingan bisa memicu gesekan.
- Harus berani menyuarakan kebutuhan rakyat, bukan sekadar menjalankan program dari pusat yang sering tidak sesuai dengan kondisi lokal.
Pemimpin Sejati: Bukan yang Paling Kuat, tapi yang Paling Peduli
Kisah serigala mengajarkan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada kemauannya untuk melayani. Di Papua, pemimpin seperti ini bisa ditemukan dalam sosok:
- Guru-guru yang mengabdi di pedalaman, meski gaji kecil dan jalanan berat.
- Mama-mama Papua yang menggerakkan ekonomi keluarga dengan keterbatasan.
- Pemuda yang kembali ke kampung untuk membangun desanya, bukan mencari gengsi di kota.
Mereka mungkin tidak selalu terlihat gagah di depan, tetapi merekalah yang memastikan tidak ada satu pun orang Papua yang tertinggal.
Harapan untuk Pemimpin Masa Depan Papua
Papua butuh lebih banyak alpha—pemimpin yang berani berjalan di belakang, mengawal rakyatnya dengan hati. Kepemimpinan sejati bukan soal jabatan, tapi tentang pengorbanan. Jika para pemimpin bisa belajar dari serigala, maka pembangunan di Papua pegunungan tidak akan lagi meninggalkan siapa pun di belakang.
“Seperti serigala alpha, pemimpin sejati tidak mengejar kemegahan diri… Ia memastikan semua sampai dengan selamat.”
Artikel ini menggabungkan pelajaran dari alam dengan realitas kepemimpinan di Papua, khususnya di pegunungan. Jika ingin menekankan contoh konkret (misalnya kisah inspiratif pemimpin lokal), bisa ditambahkan untuk memperkaya narasi.
Eksplorasi konten lain dari Artikel kita
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
