“Pemulihan Papua Dimulai dari Meja Makan Hamba Tuhan: Refleksi atas Kesaksian Seorang Gembala”Pertobatan Para Gembala: Syarat Awal Damainya Tanah Papua”

Oleh Tebenak Arinus W, berdasarkan kesaksian Hamba Tuhan Alias A. W

Papua sedang tidak baik-baik saja. Ini bukan sekadar klaim, melainkan realitas yang terpampang nyata: ketidakadilan, kekerasan, pelanggaran HAM, dan eksploitasi sumber daya alam yang merusak tatanan sosial dan ekologi . Namun, di tengah narasi-narasi konflik yang saling berseteru—antara TPNPB-OPM, pemerintah, dan aparat keamanan—ada suara lain yang sering terabaikan: suara para hamba Tuhan yang seharusnya menjadi mercusuar pemulihan.

Dosa Kolektif dan Krisis Spiritual

Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA, dengan tegas menyebut akar masalah Papua: ketamakan oligarki yang menggerogoti keadilan dan martabat manusia Papua . Namun, di balik struktur yang rusak ini, ada kegagalan spiritual yang lebih dalam. Seorang hamba Tuhan, Alias A. W, dalam kesaksiannya mengingatkan: “Bagaimana kita bisa berkhotbah tentang damai sejahtera, sementara diri kita sendiri belum berdamai?”

Inilah paradoks yang melanda gereja-gereja di Papua. Banyak hamba Tuhan berkoar tentang kebenaran di mimbar, tetapi abai terhadap penderitaan umat yang tertindas. Mereka berbicara tentang pengampunan, tetapi tidak memihak kaum lemah yang dirampas tanahnya. Mereka menyerukan rekonsiliasi, tetapi hati mereka masih menyimpan dendam atau kepentingan politik .

Pemulihan Dimulai dari Diri Sendiri

Kisah Pendeta Polimus di Nabire menjadi contoh nyata: seorang gembala yang rela menjadi buruh angkut pelabuhan demi membangun pastori yang layak bagi jemaatnya . Ia tidak hanya berkhotbah tentang pengorbanan, tetapi hidup dalam pengorbanan itu sendiri. Inilah esensi pemulihan Papua: transformasi harus dimulai dari meja makan hamba Tuhan.

  1. Pertobatan Personal: Sebelum menuntut jemaat berubah, hamba Tuhan harus terlebih dahulu mengoreksi diri. Apakah kotbahnya mencerminkan hidup yang sudah dipulihkan? Apakah ia berani seperti Uskup Timika yang vokal membela kaum tertindas, atau diam demi “harmoni” yang semu? 
  2. Solidaritas dengan Penderitaan Umat: Gereja tidak boleh menjadi menara gading. Seperti Yesus yang turun ke jalan-jalan Yerikho, hamba Tuhan harus hadir di tengah konflik, mendengar tangis pengungsi seperti Lamberti Faan yang kehilangan rumahnya 9, atau petani adat yang tanahnya dirampas.
  3. Kritik terhadap Kekuasaan: Gereja harus berani menjadi suara nabi—seperti Dr. A.G. Socratez Yoman yang menolak Pepera 1969 sebagai “jantung ketidakadilan” —tanpa terjebak dalam polarisasi politik.

Papua Bisa Damai, Jika…

Kesaksian Alias A. W mengingatkan kita: damai Papua tidak akan lahir dari senjata atau retorika politik, tetapi dari hati yang dipulihkan. Ketika hamba Tuhan hidup dalam kebenaran, jemaat akan meneladani. Ketika gereja menjadi ruang aman bagi yang terluka, masyarakat akan belajar memaafkan.

“Kita tidak perlu menyalahkan TPNPB, pemerintah, atau TNI-Polri. Kita perlu bertanya: sudahkah gereja menjadi garam dan terang?” 

Pemulihan Papua mungkin dimulai dengan hal kecil: seorang pendeta yang berhenti berbicara tentang kemakmuran palsu dan mulai mendengar jeritan rakyatnya. Atau seorang uskup yang menolak diam ketika hutan adat dijarah. Atau jemaat yang berani berkata, “Kami lelah dengan kekerasan—kami rindu damai.”

Penutup
Papua sedang tidak baik-baik saja, tetapi ia tidak harus tetap demikian. Pemulihan dimulai ketika hamba Tuhan berani berkata: “Ubahlah hatiku lebih dulu, ya Tuhan, sebelum aku mengubah Papua.” Seperti doa Selpius Bobii: “Satu rakyat, satu jiwa, siapkan jalan Tuhan.” 

Tebenak Arinus W adalah penulis dan pemerhati isu sosial-politik Papua. Artikel ini terinspirasi dari kesaksian Hamba Tuhan Alias A. W yang memilih untuk tidak disebutkan identitas lengkapnya demi keselamatan.


Eksplorasi konten lain dari Artikel kita

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar