Wali Kota Jayapura Abisai Rollo menuai kecaman setelah menyatakan bahwa “orang gunung” sebagai biang kerusuhan di Jayapura dan harus “dipulangkan” 1. Pernyataan ini tak hanya melukai, tetapi juga mengulang pola diskriminasi ala kolonial:
- Stigmatisasi kelompok tertentu sebagai “liar” atau “tidak beradab” adalah taktik klasik penjajah untuk memecah belah.
- Pengabaian kontribusi sejarah: Orang gunung telah membangun Jayapura sejak era kemerdekaan sebagai pekerja, pendidik, dan pemuka agama 1.
Studi Kasus: Apartheid Afrika Selatan
Konflik apartheid (1948–1994) menunjukkan bagaimana segregasi rasial menghancurkan bangsa:
- Dasar kebijakan: Kulit putih mendominasi politik-ekonomi, sementara kulit hitam dipinggirkan 5.
- Akibat: Perlawanan berdarah, sanksi internasional, dan trauma sosial yang bertahan puluhan tahun 5.
- Pelajaran: Diskriminasi sistematis selalu berujung pada kehancuran.
Ras sebagai Konstruksi Kekuasaan
Konsep ras diciptakan untuk legitimasi dominasi:
- Era kolonial Belanda: Ras kulit putih dianggap “superior”, sementara pribumi ditempatkan sebagai “liar” 14.
- Modernisasi tak menghapus prasangka: Iklan sabun era 1990-an masih mempromosikan kulit putih sebagai standar kecantikan 14.
Persatuan Papua: Melawan Warisan Kolonial
Abisai Rollo harus menyadari:
- Papua dibangun oleh semua suku. Surat protes warga menegaskan: “Kami siap pulang jika kontribusi kami dibayar lunas!” 1.
- Air mengalir ke lembah, berkat mengalir ke pesisir. Tak ada gunung tanpa pantai, tak ada pantai tanpa gunung.
Penutup:
Pernyataan rasis seperti ini adalah pengkhianatan terhadap NKRI yang menjunjung Bhinneka Tunggal Ika. Mari belajar dari Afrika Selatan: persatuan adalah harga mati!
Oleh: Tabenak Arinus W
Eksplorasi konten lain dari Artikel kita
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
