Analisis Insiden Tembak-Menembak di Papua: Provokasi atau Realitas?

Wamena, sebuah kota di Pegunungan Tengah Papua, kembali menjadi sorotan setelah insiden tembak-menembak yang menewaskan satu anggota TPNPB-OPM dan melukai puluhan orang, termasuk aparat keamanan. Kejadian ini memicu spekulasi bahwa ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan konflik untuk membenarkan peningkatan kehadiran militer dan pembangunan pos-pos baru di wilayah tersebut .

Insiden Terkini: Tembak-Menembak di Wamena

Pada 18 Mei 2025, terjadi baku tembak antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan kelompok bersenjata TPNPB-OPM di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo. Salah satu anggota TPNPB-OPM, Esa Giban, tewas dalam insiden tersebut. Sementara itu, TNI menyatakan tidak ada korban di pihak mereka, meskipun TPNPB-OPM mengklaim tiga tentara juga menjadi korban .

Sebelumnya, pada Maret 2025, Wamena juga dilanda kerusuhan saat perayaan pelantikan Bupati Jayawijaya. Kerusuhan ini menyebabkan 38 orang luka-luka, termasuk enam polisi. Situasi memanas setelah sekelompok orang melempari panggung utama dengan batu dan kayu, memicu bentrokan massal .

Pola Konflik yang Terus Berulang

Beberapa analis mencurigai bahwa konflik di Wamena bukan sekadar bentrokan spontan, melainkan bagian dari skenario yang lebih besar:

  1. Provokasi untuk Memicu Ketegangan – Insiden seperti penembakan dan kerusuhan seringkali terjadi setelah provokasi, baik dari kelompok bersenjata maupun oknum tertentu yang ingin memanfaatkan situasi .
  2. Pembenaran untuk Operasi Militer – Setiap kali terjadi kekerasan, militer dan polisi mengirim pasukan tambahan, membangun pos baru, dan memperketat pengawasan. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah konflik sengaja dipertahankan untuk melegitimasi kehadiran militer yang masif?
  3. Dampak pada Masyarakat Sipil – Warga Papua, terutama masyarakat adat, sering menjadi korban dalam situasi ini. Mereka terjebak antara dua pihak, mengalami intimidasi, penggusuran, bahkan kehilangan nyawa .

Narasi “Bare Life” dan Pengabaian Hak Asasi

Seperti yang diungkapkan oleh Budi Hernawan, seorang aktivis HAM Papua, pemerintah Indonesia sering kali memperlakukan kehidupan orang Papua sebagai “bare life”—hidup yang dianggap tidak bernilai, sekadar objek keamanan negara. Ketika terjadi kekerasan, yang disorot adalah “stabilitas keamanan”, bukan korban jiwa yang berjatuhan .

Contohnya, dalam insiden Wamena 2012, seorang anak tertabrak motor tentara, memicu kemarahan warga. Alih-alih menyelesaikan secara damai, militer melakukan pembalasan dengan menyerang warga sipil. Sikap seperti ini memperkuat kesan bahwa militer sengaja mempertahankan ketegangan untuk menjaga dominasinya .

Kepentingan di Balik Eskalasi Militer

Beberapa kemungkinan yang patut dipertanyakan:

  • Ekspansi Keamanan – Dengan alasan “mengamankan Papua”, militer membangun pos-pos baru, memperluas pengaruh, dan mengontrol pergerakan warga.
  • Politik Pembangunan vs. Represi – Pemerintah mengklaim membangun infrastruktur, tetapi di sisi lain, pendekatan keamanan yang represif justru memperburuk situasi .
  • Bisnis di Balik Konflik – Adanya indikasi bahwa konflik dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, seperti tambang dan proyek strategis lainnya yang membutuhkan pengamanan ketat.

Kesimpulan: Perlunya Solusi Damai dan Transparansi

Jika konflik terus direkayasa, maka yang terjadi adalah siklus kekerasan tanpa ujung. Masyarakat Papua membutuhkan pendekatan humanis, dialog, dan transparansi dalam setiap kebijakan keamanan. Tanpa itu, Wamena dan wilayah Papua lainnya akan terus menjadi medan pertempuran yang menguntungkan segelintir pihak, tetapi merugikan rakyat kecil.

“Konflik bukan solusi. Jika ada yang diuntungkan dari darah rakyat Papua, maka itu adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.”


Referensi:

  1. Tempo.co – Clash in Papua Reportedly Leaves One TPNPB-OPM Militant Dead
  2. Inside Indonesia – They are just Papuans
  3. Newsflare – Deadly Clashes Erupt in Indonesia’s Papua During Regional Celebration

Eksplorasi konten lain dari Artikel kita

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar